Cybercrime

Cybercrime

Dalam beberapa literatur, cybercrime sering diidentikkan sebagai computer crime. Cybercrime dirumuskan sebagai perbuatan melawan hukum yang dilakukan dengan memakai jaringan komputer sebagai sarana/ alat atau komputer sebagai objek, baik untuk memperoleh keuntungan ataupun tidak, dengan merugikan pihak lain.

Contoh – Contoh kasus Cybercrime
Kasus 1 : Carding ( Kejahatan Kartu Kredit )

Modus
Tersangka melakukan melakukan tindak pidana penipuan dengan menggunakan sarana internet, menggunakan nomor dan kartu kredit milik orang lain secara tidak sah untuk mendapatkan alat-alat musik, komputer dan Digital Konverter serta menjualnya,

Carding adalah aktifitas pembelian barang di Internet menggunakan kartu kredit bajakan. Kartu kredit tersebut diperoleh dengan cara meminta dari carder lain (dengan catatan harus tergabung dalam komunitas carder pada server IRC tertentu), ataupun dengan menggunakan kemampuan social engineering yang dimiliki oleh carder.
Contoh kasus kejahatan kartu kredit melalui internet dapat dikemukakan dari suatu hasil penyidikan pihak Korps Reserse POLRI Bidang Tindak Pidana Tertentu di Jakarta terhadap tersangka berinisial BRS, seorang Warga Negara Indonesia yang masih berstatus sebagai mahasiswa Computer Science di Oklahoma City University USA. Ia disangka melakukan tindak pidana penipuan dengan menggunakan sarana internet, menggunakan nomor dan kartu kredit milik orang lain secara tidak sah untuk mendapatkan alat-alat musik, komputer dan Digital Konverter serta menjualnya,
Tersangka mendapatkan nomor-nomor kartu kredit secara acak melalui Search Engine mencari “Program Card Generator” di Internet. Tersangka menggunakan Program Card Generator versi IV, kemudian hasil dari generator tersebut disimpan Tersangka dalam file di “My Document” dan sebagian dari nomor-nomor itu digunakan tersangka untuk melakukan transaksi di Internet.

Penyelesaian
kejahatan carding bisa terjadi karena keteledoran pemilik kartu kredit itu sendiri. Aksi pencurian kartu kredit seperti dicopet atau juga bisa mengunakan kartu kredit orang lain karena menemukannya secara tidak sengaja. Sedangkan secara Online, Carding bisa disebabkan keteledoran lemahnya security system pengelola layanan online shopping dan pemilik Electronic Data Capture (EDC).
Carding juga bisa dilakukan dengan cara mencuri data dari suatu database yang berisi daftar kartu kredit dan data pemilik lalu mengunakannya untuk belanja online atau melakukan transaksi online shopping. Untuk mencegah kejahatan Carding, kita harus memastikan kartu kredit yang anda miliki tersimpan pada tempat yang aman dan jika kehilangan kartu kredit dan kartu identitas kita, segeralah lapor ke pihak berwajib dan segera lakukan pemblokiran pada saat itu juga.

Kasus 2 : Unauthorized Access to Computer System and Service

Modus
Pelaku atau yang biasa disebut hacker merusak website dengan tujuan untuk membuat website tersebut menjadi tidak berfungsi, para hacker tersebut melakukan tindakan tersebut untuk kepuasan dirinya, mereka merasa puas bila bias memasuki atau merusak website.

Kejahatan yang dilakukan dengan memasuki/menyusup ke dalam suatu sistem jaringan komputer secara tidak sah, tanpa izin atau tanpa sepengetahuan dari pemilik sistem jaringan komputer yang dimasukinya. Biasanya pelaku kejahatan (hacker) melakukannya dengan maksud sabotase ataupun pencurian informasi penting dan rahasia. Namun begitu, ada juga
yang melakukannya hanya karena tertantang untuk mencoba keahliannya menembus suatu sistem yang memiliki tingkat proteksitinggi.
Kita tentu belum lupa ketika masalah Timor Timur sedang hangat-hangatnya dibicarakan di tingkat internasional, beberapa website milik pemerintah RI dirusak oleh hacker (Kompas, 11/08/1999). Beberapa waktu lalu, hacker juga telah berhasil menembus masuk ke dalam database berisi data para pengguna jasa America Online (AOL), sebuah perusahaan Amerika Serikat yang bergerak dibidang e-commerce yang memiliki tingkat kerahasiaan tinggi (Indonesian Observer, 26/06/2000). Situs Federal Bureau of Investigation (FBI) juga tidak luput dari serangan para hacker, yang mengakibatkan tidak berfungsinya situs ini beberapa waktu lamanya

Penyelesaian
Pelaku memasuki suatu sistem jaringan secara diam – diam, pelaku bias memasuki sistem jaringan mungkin disebabkan karena keamanan pada sistem jaringan yang lemah, untuk menanggulangi hal tersebut dilakukan pengamanan sistem secara terintegrasi sangat diperlukan untuk meminimalisasikan kemungkinan perusakan tersebut.

Kasus 3 : Cracking

Modus
Para cracker melakukan penyerangan terhadap situs biasanya mereka melakukan ini untuk mengambil informasi dari web page, biasanya yang mendasari cracker ini adalah persaingan antar perusahaan.

Kasus perusakan situs tunggal layanan ekspor impor, National Single Windows (NSW) baru-baru ini adalah satu contoh yang bisa kita simak. Sebagaimana diberitakan Harian Kompas (20/11), situs baru yang masih dalam taraf ujicoba ini mendadak diserang cracker. Indikasi penyerangan dilihat oleh Ketua Satuan Tugas Teknologi Informasi NSW, Susiwijoyo dengan munculnya jumlah hit yang mencapai 5.300 dalam hari pertama masa uji coba. Padahal, hit yang disediakan pengelola online maksimal hanya 3.000 hit. Beruntung pengelola sigap mengatasi serangan ganas cracker. Gagal menyerang NSW, cracker langsung beralih menyerang situs Jakarta Crisis Center. Akibatnya, situs JCC sempat drop dan sebagian tayangan online-nya mengalami kerusakan.

Penyelesaian
Pelaku memasuki suatu sistem jaringan secara diam – diam, pelaku bias memasuki sistem jaringan mungkin disebabkan karena keamanan pada sistem jaringan yang lemah, untuk menanggulangi hal tersebut dilakukan pengamanan sistem secara terintegrasi sangat diperlukan untuk meminimalisasikan kemungkinan perusakan tersebut.

Kasus 4 : Cracking

Modus
Bermula dari masalah perebutan pulau Ambalat antara Indonesia dan Malaysia, dalam dunia nyata kedua negara menyiapkan armada di seputar Ambalat. Dalam dunia maya. Perang cyber langsung meletus, para cracker Indonesia menyerang situs – situs Malaysia dengan maksud untuk merusak situs – situs Malaysia

Masalah Ambalat menyulut ketegangan hubungan Indonesia Malaysia. Dua negara bertetangga ini sudah menyiagakan armada perang. Namun, keduanya masih menahan diri dan berusaha mencari jalan damai. Dalam dunia nyata, situasi masih terkendali. Tapi tidak demikian dengan dunia maya. Perang cyber langsung meletus beberapa hari setelah pemerintah kedua negara menyiapkan armada di seputar Ambalat.
Serangan dimulai oleh cracker Indonesia sekitar. Cracker merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan orang yang melakukan tindakan memasuki sistem keamanan komputer dan kemudian mengubah tampilan hingga melakukan perusakan. Beberapa situs diserang sekaligus, di antaranya milik kantor Negara bagian terbesar di Malaysia, Sultan Perak. Para cracker mengubah tampilan dengan membubuhkan kalimat ‘Indonesia bersatu dan jangan ganggu tanah airku’ dengan latar belakang bendera merah putih. Dalam situs itu ditinggalkan pula lima sila Pancasila. Cracker itu kemudian meninggalkan identitas diri, yaitu Kupuuss.

Penyelesaian
Dimulai dari ketegangan hubungan Indonesia dan Malaysia, Craker Indonesia menyerah situs – situs Malaysia, kemudian mengubah tampilan hingga melakukan perusakan. untuk menanggulangi hal tersebut, sebaiknya Malaysia melakukan pengamanan sistem secara terintegrasi sangat diperlukan untuk meminimalisasikan kemungkinan perusakan tersebut.

Kasus 5 : Data Forgery

Modus
Pelaku melakukan aksinya dengan maksud untuk mengetahui dan mendapatkan identitas pengguna (user id) dan nomor identitas personal (PIN) sehingga identitas pengguna (user id) dan nomor identitas personal (PIN) bias digunakan oleh pelaku

Dunia perbankan melalui Internet (e-banking) Indonesia, dikejutkan oleh ulah seseorang bernama Steven Haryanto, seorang hacker dan jurnalis pada majalah Master Web. Lelaki asal Bandung ini dengan sengaja membuat situs asli tapi palsu layanan Internet banking Bank Central Asia, (BCA). Steven membeli domain-domain dengan nama mirip http://www.klikbca.com (situs asli Internet banking BCA), yaitu domain http://www.klik-bca.com,www.kilkbca.com, http://www.clikbca.com, http://www.klickca.com. Dan http://www.klikbac.com. Isi situs-situs plesetan inipun nyaris sama, kecuali tidak adanya security untuk bertransaksi dan adanya formulir akses (login form) palsu. Jika nasabah BCA salah mengetik situs BCA asli maka nasabah tersebut masuk perangkap situs plesetan yang dibuat oleh Steven sehingga identitas pengguna (user id) dan nomor identitas personal (PIN) dapat di ketahuinya.

Penyelesaian
Untuk menghindari kejahatan tersebut, sebaiknya masyarakat lebih berhati – hati lagi dan lebih waspada lagi ketika ingin memasukan identitas pengguna (user id) dan nomor identitas personal (PIN) terhadap website yang mereka buka, apakah website tersebut benar atau tipuan, dengan memeriksa security pada website tersebut.

Kasus 6 : Cracikng

Modus
Pelaku melakukan aksinya hanya untuk sekedar menguji suatu sistem keamanan yang biasa dilakukan oleh kalangan underground (istilah bagi dunia Hacker).

Seorang hacker bernama Dani Hermansyah, pada tanggal 17 April 2004 melakukan deface dengan mengubah nama – nama partai yang ada dengan nama- nama buah dalam website http://www.kpu.go.id yang mengakibatkan berkurangnya kepercayaan masyarakat terhadap Pemilu yang sedang berlangsung pada saat itu. Dikhawatirkan, selain nama – nama partai yang diubah bukan tidak mungkin angka-angka jumlah pemilih yang masuk di sana menjadi tidak aman dan dapat diubah, padahal dana yang dikeluarkan untuk sistem teknologi informasi yang digunakan oleh KPU sangat besar sekali. Untung sekali bahwa apa yang dilakukan oleh Dani tersebut tidak dilakukan dengan motif politik, melainkan hanya sekedar menguji suatu sistem keamanan yang biasa dilakukan oleh kalangan underground (istilah bagi dunia Hacker).

Penyelesaian
pelaku bisa memasuki sistem jaringan mungkin disebabkan karena keamanan pada sistem jaringan yang lemah walaupun padahal dana yang dikeluarkan untuk sistem teknologi informasi yang digunakan sangat besar sekali , untuk menanggulangi hal tersebut dilakukan pengamanan sistem secara terintegrasi sangat diperlukan untuk meminimalisasikan kemungkinan perusakan tersebut.

Kasus 7 : Cracking

Modus
Pelaku menyusupi situs porno ke komputer gedung DPR dengan maksud sebagai perbuatan iseng atau untuk membuat malu pihak DPR.

Komputer di gedung DPR disusupi situs porno. Sebuah alamat situs porno lengkap dengan tampilan gambar-gambar asusilanya tiba-tiba muncul di layar informasi kegiatan DPR yang diletakkan di depan ruang wartawan DPR, Senayan, Jakarta, Senin (2/8). Situs http://www.dpr.go.id berubah menjadi http://www.tube8.com dan situs porno itu tampil lebih kurang selama 15 menit, tanpa bisa ditutup ataupun dimatikan. “Wiiih gile…kok bisa muncul,” kata salah seorang wartawan yang melihat gambar-gambar asusila tersebut.
Puluhan wartawan yang sedang melakukan peliputan di gedung DPR kemudian serentak mengerumuni. Beberapa terlihat tertawa dan berteriak-teriak setelah melihat gambar-gambar asusila yang silih berganti itu. Pada saat yang sama, wartawan foto juga terus sibuk mengabadikan peristiwa langka di gedung wakil rakyat tersebut. Munculnya situs porno kemudian menjadi perhatian tidak hanya para wartawan, tetapi juga para pengunjung dan tamu dewan. Sementara Kabag Pemberitaan DPR, Suratna, terlihat panik dan berusaha untuk menutup situs penyusup tersebut. Namun demikian, alamat situs porno itu tetap tak bisa dimatikan. Justru, gambar yang tadinya kecil lama-kelamaan makin besar dan nyaris memenuhi layar monitor. Semua usaha yang dilakukan tak berbuah, tiba-tiba sekitar 15 menit kemudian gambar tersebut hilang dengan sendirinya.

Penyelesaian
pelaku bisa memasuki sistem jaringan mungkin disebabkan karena keamanan pada sistem jaringan yang lemah, seharusnya untuk sistem keamanan di DPR tingkat keamanan jaringannya haruslah sangat tinggi karena menyimpan informasi – informasi penting Negara. Untuk mengatasi hal tersebut pengamanan sistem secara terintegrasi sangat diperlukan untuk meminimalisasikan kemungkinan perusakan tersebut dan mencegah masuknya haker ataupun cracker

Kasus 8 : Sex on the Net

Modus
Lebih mudahnya mencari dan mendapatkan film, hidden camera ataupun direct web cam berkategori xxx dengan isi (content) lokal maupun internasional melalui internet membuat orang lebih memilih internet dibandingkan media lainnya.

Sebagai wahana komunikasi, internet bisa saja bersifat netral. Namun, ekses yang ditimbulkan tentu ada. Sebab berbicara mengenai internet, wacana yang hadir tidak saja mengenai teknik, tapi juga politik bahkan erotik. Dalam hal sex on the net, banyak kalangan mengkhawatirkan derasnya gelombang budaya baru ini.
Bahkan disebut-sebut, pornografi internet sudah sangat dahsyat bahkan melebihi blue film. Seperti pernah diungkap Menneg Kominfo Syamsul Muarif, ketika meresmikan situs internet Pemerintah Daerah NTT beberapa waktu lalu, 50 persen kaum muda lebih suka menggunakan internet untuk mencari dan membuka situs porno.
Kekhawatiran tersebut wajar. Apalagi survei Netvalue mengindikasikan pengguna internet di Asia yang mengunjungi situs esek-esek dan waktu yang digunakan untuk menjelajahi situs porno meningkat. Tak ketinggalan, selain sekadar gambar, internet juga menjadi media mendapatkan film, hidden camera ataupun direct web cam berkategori xxx dengan isi (content) lokal maupun internasional.

Penyelesaian
Meningkatnya kejahatan sex on the net disebabkan karena mudahnya pelaku mengakses situs – situs pornografi, untuk menanggulangi hal tersebut situs – situs pornografi sebisa mungkin harus di blokir .

Sumber :

http://moduskejahatan.blogspot.com/2008/06/cyber-crime-di-perusahaan-online.html
http://www.teka-09.co.cc/2010/10/beberapa-contoh-kasus-cyber-crime-di.html
http://moduskejahatan.blogspot.com/2008/06/transaksi-seks-modus-baru kejahatan.html
http://ita-kyu-kiyut.blogspot.com/2011/03/cybercrime-karakteristik-klasifikasi.html

~ oleh zenziko pada Agustus 8, 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: